Musibah yang menimpa ketua KPK sekarang, terseret kasus pembunuhan berencana, sontak mengejutkan sebagian besar rakyat Indonesia yang mendukung segala upaya untuk memberantas korupsi yang telah menjadi penyakit di negeri ini. Memang tugas yang diemban KPK berdasar undang-undang tersebut, tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Berbagai macam ujian dan cobaan akan datang menghadang untuk menhalang-halanginya, hal itu pasti dirasakan dan dialami KPK dengan segenap anggotanya. Karenanya terlepas dari subtansi kasus yang alami ketua KPK sekarang, semua itu patut dilihat sebagai hal yang wajar-wajar saja dan sudah menjadi konsekwensi resiko yang harus diterima sebagai anggota KPK.
Namun perlulah sedikit mencoba untuk menganalisa secara sederhana tentang kasus yang menimpa ketua KPK tersebut. Dimulai dari sisi Antasari A. seperti yang telah diakuinya di berbagai acara baik resmi maupun tidak resmi, selama ini godaan-godaan baik harta maupun wanita sering kali mampir disodorkan dihadapan mukanya. Dari sini kemungkinan adanya persoalan yang menyangkut wanita bisa mendekati kebenaran, namun perlu dipertanyakan sudah sepadankah nilainya bila dibandingkan dengan akibat yang harus ditanggung ketika ketahuan terlibat dalam satu kasus pembunuhan berencana? Sebagai seseorang yang selama ini menggeluti bidang hukum, maka pantaslah bila satu tanda tanya besar diarahkan kepadanya.
Sementara dari sisi korban pembunuhan, Nasrudin Z. dapat terlihat bahwa sosoknya yang sering memberikan informasi berbagai kasus korupsi di BUMN ke KPK atau disebut-sebut juga dalam perlindungan saksi KPK, tak lebih dari musuh dalam selimut di lingkungan teman-teman BUMN-nya. Sehingga kemungkinan pantas dibunuh oleh orang-orang yang telah dirugikan atau musuh karena perbuatannya bisa mendekati kebenaran. Namun yang perlu menjadi perhatian bahwa sosok Nasrudin Z. yang juga dikenal punya hubungan dengan banyak wanita ini, tidaklah bersih dari berbagai persoalan atau kasus. Sehingga akan timbul pertanyaan, apakah dia akan berani melakukan tindakan yang merugikan Antasari A. ketua KPK, padahal selama ini dia mendapat perlindungannya? Sebagai seseorang yang berkecimpung di BUMN, tentu dia bisa mengukur untung ruginya membuka persoalan dengan Antasari A. bukankah dengan jatuhnya ketua KPK bisa berakibat jatuh pula dia.
Sedangkan dari Rani J. wanita yang dikabarkan caddy primadona di kalangan pejabat-pejabat, dari sisi wanita ini bisa ditarik pandangan sebagai matrealistis atau bisa dibayar. Sehingga kemungkinan menjadi wanita simpanan dan menjadi rebutan bisa sangat menjadi kebenaran. Namun ada hal-hal yang menjadi pertanyaan dari sosok wanita ini. Kalau benar dia mau menjadi wanita simpanan Nasrudin Z. dan telah mempunyai hubungan rahasia dengan Antasari A., kenapa dia mau membuka hubungan rahasia tersebut? Bukankah setelah tewasnya Nasrudin Z. dia akan kehilangan penopang hidup dan justru dengan menjatuhkan Antasari A. dia pun akan kehilangan kemungkinan mendapat penopang hidup lainnya. Ataukah justru ada seseorang yang telah berjanji mau menjadi penopang hidup Rani J. di kemudian hari setelah kasus ini? Bisa diartikan seseorang itu pasti mendapat keuntungan dari kasus itu.
Perlu juga dipertanyakan si Rani J. ini, bila benar-benar mempunyai hubungan rahasia dengan Antasari A. bagaimana dan siapa yang menjadi perantara sehingga dia bisa berkenalan dengan ketua KPK tersebut? Apakah itu terjadi secara natural atau ada upaya dari pihak lain yang mengaharapkan dia merayu Antasari A? Hal itu perlu ditelusuri lebih dalam karena bisa saja kemungkinan terjadi konspirasi untuk menjatuhkan KPK sebagai institusi pemberantas korupsi. Dan bisa saja konspirasi ini sebenarnya mentargetkan dua sasaran dalam satu jebakan, sasaran pertama mengingat korban Nasrudin Z. sendiri juga mempunyai banyak musuh terselubung di lingkungan BUMN dan dikenal sangat dekat dengan ketua KPK. Sasaran kedua KPK, selama ini bersama ketuanya Antasari A. telah memenjarakan tokoh-tokoh dan pejabat-pejabat penting yang terlibat korupsi, tentu banyak sekali yang mengharapkan kejatuhannya.
Masih banyak lagi sisi-sisi lain yang harus dilihat agar mendapat pandangan yang obyektif dari kasus itu. Tulisan diatas bukan sebuah teori atau fakta, tetapi hanya sebagai bahan bacaan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut, tidak hanya berdasar pandangan subyektif dengan sentiment pribadi saja. Dan dari itu semua pasti berharap agar kejadian serupa tidak terjadi secara berulang-ulang dan menjadi budaya di kemudian hari di negeri tercinta Indonesia. Semoga dengan terjadinya kasus ini, KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi tidak menjadi surut langkah, tetapi akan terus maju menjadikan negara ini bersih dari koruptor-koruptor yang merugikan bangsa dan negara Indonesia. Yahh... Semoga!
Senin, 04 Mei 2009
Ketua KPK Terjebak Perangkap Untuk Dua Sasaran?
Senin, 30 Maret 2009
Indonesia Terbakar Dan Dunia Pun Bubar!
Di Indonesia pemilu berlangsung dalam suasana penuh kontroversi. Legitimasi hasil pemilu banyak dipertanyakan berbagai pihak. Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap kinerja KPU tersebut. Keadaan semakin mencekam setelah berbagai pihak yang kontra terhadap hasil pemilu mulai menggalang kekuatan anarkis sehingga timbul berbagai kerusuhan di sana-sini. Bahkan mulai timbul wacana mengambil kekuasaan pemerintahan secara paksa.
Sementara pemerintahan yang berkuasa berdasar hasil pemilu tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari TNI dan POLRI. Karena di dalam kedua institusi tersebut juga terdapat persaingan diantara para perwiranya yang memperebutkan posisi jabatan di angkatannya masing-masing.
Keadaan semakin bertambah parah ketika sebagaian besar wilayah dunia termasuk Indonesia mendapat pukulan bencana bertubi-tubi. Di sana-sini bencana alam terjadi, jutaan korban jiwa melayang. Keadaan dunia yang kacau, tidak lagi memperdulikan satu Negara dengan Negara lainnya. Semua negar sibuk dengan urusan Negaranya masing-masing, tidak ada lagi bantuan dana dari Negara tetangga atau badan dunia. Hal itulah yang semakin membuat terpuruk pemerintah Indonesia, minimya dana untuk membantu korban bencana alam semakin membuat rakyat larut dalam propaganda dan provokasi untuk melawan dan merebut pemerintahan secara paksa.
Sidang istimewa MPR digelar secara mendadak sebagai jawaban atas kondisi Negara yang semrawut dan tidak menentu. Dan hal itu justru menjadi angin segar bagi golongan yang menentang pemerintah. Karena dalam perhitungannya, mereka tidak perlu susah-susah harus melakukan gerilya perlwanan bersenjata terhadap pemerintah yang berkuasa. Maka segala rancangan pun disusun untuk menguasai sidang istimewa MPR tersebut. Mulai dari anggota MPR, aparat TNI dan POLRI yang bertugas jaga, secretariat MPR sampai dengan cleaning servicenya dll, semua sudah masuk dalam rencana kudeta berbusa itu. Poin penting dalam tujuannya adalah agar secara cepat SI MPR dapat memberhentikan Presiden dan mengantinya dengan Presiden baru yang berasal dari golongan yang menentang pemerintah.
Namun semua tidak semudah yang dibayangkan, ternyata terjadi perdebatan sengit di dalam gedung MPR. Satu sama lain saling mempertahankan argumennya masing-masing, bahkan rakyat cenderung melihat di dalam sidangnya MPR hanya sekedar bagi-bagi dan tawar-menawar terhadap kekuasaan pemerintahan yang disengketakan. Karena sudah teramat jemu dan muak terhadap tingkah laku para politisi tersebut, rakyat pun bergerak sendiri-sendiri. Dan apa yang selama ini ditakutkan oleh aparatur negara pun terjadi. Rakyat dengan berkelompok secara membabi-buta membakar dan menjarah dimana-mana. Pertokoan, plaza, rumah mewah, apartement kelas atas di seluruh penjuru tanah air tidak ada yang luput dari kemarahan rakyat. Aparat keamanan dibuat tidak berkutik, apalagi setelah beberapa kelompok rakyat yang sudah membobol gudang senjata milik TNI dan POLRI, mereka menjadikan seluruh aparatur negara sebagai sasaran tembak utama yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini.
Darah yang menggenang dan tumpukan mayat yang bergelimpangan semua seakan jadi pandangan yang biasa terlihat. Tidak ada koar-koar dari komnas HAM, PBB atau badan dunia lainnya, karena hampir semua lapisan di muka bumi ini mengalaminya. Bahkan kondisinya lebih tragis dan mengerikan dibandingkan dengan perang dunia yang pernah terjadi. Manusia sudah tidak lagi memandang factor kesukuan, kedaerahan atau kenegaraan, semuanya rela saling bunuh biarpun dari keluarga sendiri hanya demi untuk bertahan hidup.
Semuanya terjadi begitu cepat dan ketika manusia tersadar, mereka telah dikepung oleh lautan yang menggenangi sebagian besar daratan di bumi ini. Dan mereka pun tersadar bahwa kini hanya tinggal mereka saja yang tersisa, tidak ada lagi manusia lainnya. Jiwa manusia yang keras dan buas pun berubah dingin membeku seiring dengan hawa dingin yang menyelimuti hari-hari. Sementara rakyat Indonesia yang tersisa pun bertanya-tanya, masih perlukah Indonesia? Pertanyaan yang sama pun terlontar dari manusia yang tersisa di seluruh Negara di dunia. Hingga semua serentak timbul pertanyaan lagi, masih adakah dunia?
Baca selengkapnya...
Minggu, 22 Maret 2009
PANCASILA
PANCASILA
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA.
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN
BERADAB.
3. PERSATUAN INDONESIA.
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH
HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN.
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH
RAKYAT INDONESIA.
Baca selengkapnya...

